Nama :
Riyan Anggara
NIM :
2015230044
Prodi :
Ilmu Komunikasi
Mata Kuliah : Filsafat Komunikasi
Perspektif Komunikasi
Perkembangan komunikasi
berjalan beriringan dengan perkembangan teknologi. Berlo (1975) menyebut zaman
sekarang ini adalah zaman revolusi komunikasi yang sejati, yang ditimbulkan,
sebagian terbesar oleh adanya perkembangan kemajuan teknologis yang amat pesat
di bidang media komunikasi. Salah satu fakta yang sangat mencolok tentang
dasawarsa dewasa ini adalah ledakan informasi yang luar biasa. Ledakan
informasi itu telah menuntut adanya penemuan beberapa sarana untuk mengatasi
masalah informasi tersebut.
Teknologi telah
dikembangkan pada tingkat massa dengan perkembangan sistem komputer yang
canggih itu (misalnya ERIC) untuk menyimpan dan mencari kembali informasi
secara sistematis. Dalam pengertian yang sebenarnya, ERIC hanyalah suatu
mekaninsme untuk mengatasi masalah secara komputer itu. Teknologi juga menambah
“kemudahan dibawanya” informasi sehingga setiap tahun berikutnya makin banyak
orang menerima informasi secara lebih cepat.
Hasil yang tidak dapat
dielakkan dari revolusi komunikasi pada masa kini adalah bahwa pemahaman
hakikat komunikasi manusia menjadi lebih sulit lagi, namun menjadi lebih
menentukan dalam masyarakat kontemporer.
1.
Perspektif Mekanistis
Para ahli teori sosial
dan filsuf ilmu umumnya sependapat bahwa ilmu sosial/ perilaku amat banyak
meminjam dari ilmu fisika, pada saat disiplin baru itu menjalani perkembangan
selama tahun-tahun pembentukannya. Perspektif mekanistis komunikasi manusia
menekankan pada unsur fisik komunikasi, penyampaian dan penerimaan arus pesan
seperti ban berjalan di antara sumber atau para penerimanya. Semua fungsi
penting dari komunikasi terjadi pada saluran, lokus , perspektif mekanistis.
Ilmu fisika yang dominant pada beberapa abad ini merupakan perspektif
mekanistis, umumnya dikenal sebagai “fisika klasik”.
Model perspektif
mekanistis komunikasi manusia.
Saluran merupakan
tempat untuk menyampaikan pesan dari komunikator kepada komunikan secara
kontinu atau terus-menerus, tanpa adanya saluran maka komponen- komponen
komunikasi lainnya akan terkatung- katung secara koseptual dalam ruangan.
Karena secara jelas perspektif mekanistis menempatkan komunikasi bulat- bulat
pada saluran.
Karena terlalu
memfokuskan kepada saluran, maka timbul hambatan dan kegagalan dalam
komunikasi. Hambatan tersebut lebih banyak dilihat sebagai hambatan psikologis
yang terdapat dalam kemampuan kognitif dan afektif Individual dalam menyandi
dan mengalih sandi pesan.
Encoding merupakan
proses pentransformasian pesan dari satu bentuk ke bentuk yang lain pada saat
penyampaian. Sedangkan pengalihan sandi atau decoding merupakan proses
pentransformasian pesan dari satu bentuk ke bentuk yang lain pada saat
penerimaan atau di titik tujuan.
Jika komunikatornya
lebih dari dua, maka memerlukan penjaga gerbang atau disebut gate keeping.
Penjaga gerbang berfungsi menerima informasi dari suatu sumber dan merelai
informasi tersebut kepada seorang penerima.
2.
Perspektif Psikologis
Banyak penelitian
komunikasi dalam tradisi empiris ilmu sosial kontemporer telah meminjam secara
besar-besaran dari psikologi, tetapi fenomena ini dapat dimengerti. Sejak
berabad-abad komunikasi meminjam dari disiplin lain seperti filsafat,
sosiologi, bahasa dan lain sebagainya. Banyak yang menganggap bahwa tradisi
meminjam ini adalah hal yang wajar karena komunikasi merupakan disiplin yang
elektik (electic).
Karakteristik
Penjelasan Psikologis
Seperti halnya
komunikasi, psikologi merupakan disiplin yang beraneka ragam dengan
spesialisasi-spesialisasi yang dihubungkan secara longgar, misalnya psikologi
kepribadian, psikologi sosial, psikologi industri, dan lain sebagainya.
Sebenarnya, pandangan psikologis komunikasi tidak mencakup semua hal dari satu
teori saja dalam psikologi. Ingat bahwa peminjaman komunikasi dari psikologi
secara relatife bersifat dangkal dan sporadis. Akibatnya, disini tidaklah
dimaksudkan untuk mengemukakan cirri-ciri esensial penjelasan psikologis. Akan
tetapi, tujuannya adalah untuk menandai ciri-ciri penjelasan psikologis yang
tampaknya mengarahkan ahli komunikasi yang mempergunakannya.
Penerimaan Stimuli oleh
Alat-alat Indera
Sebagai manusia,
kemanpuan kita sangat terbatas untuk berhubungan dengan lingkungan kita serta
dengan sesama kita. Secara fisiologis, setidak-tidaknya, kita hanya memiliki
lima alat indera. Fenomena lingkungan itu yang terkandung dalam banyak
penjelasan psikologis, termasuk dalam penjelasan teoritis di luar kecenderungan
behavioristis, adalah konsep “stimulus” sebagai satuan masukan alat indera.
Jadi, setiap berkas
sinar yang masuk pada retina mata kita, setiap getaran udara yang menggetarkan
bagian dalam telinga kita, atau zat apapun yang merangsang indera kita
dinamakan stimulus. Akibatnya, stimuli memberikan data yang dipergunakan dalam
penjelasan tentang perilaku manusia
Mediasi Internal
Stimuli
Setelah menerima
stimuli-stimuli, indera kita akan mengolahnya kembali di dalam tubuh dan
pikiran kita. Hampir seluruhnya, mediasi organisme dalam penjelasan S-R
merupakan konsep black box, yakni struktur khusus dan fungsi proses antara yang
internal dipandang kurang penting dibandingkan dengan proses pengubahan input
menjadi output. Menurut teori ini, penjelasan memerlukan pengamatan masukan dan
pengeluaran namun tidak menuntut pengamatan langsung pada kegiatan dalam diri
organisme yang bersangkutan, sekalipun mungkin dapat dilakukan.
Penjelasan S-R akan
mengemukakan bahwa organisme akan menghasilkan perilaku tertentu, jika ada
kondisi stimulus tertentu. Maksudnya, keadaan internal organisme berfungsi
menghasilkan respons tertentu jika ada kondisi stimulus tertentu pula. Akan
tetapi, penting untuk diingat bahwa keadaan internal tersebut hanya dapat
dikenali dalam artian peran yang dijalankannya dalam menghasilkan perilaku.
Peramalan Respons
Tujuan penjelasan S-R
berpusat pada peramalan, dan peramalan berpusat pada respons. Sebenarnya
respons dianggap sebagai perilaku yang dapat secara langsung diamati, dan
penjelasan psikologis berusaha menghubungkan, yakni menjelaskan, perilaku dalam
artian stimuli dan keadaan internal. Memang jelas bahwa respons tidak dapat
diramalkan semata-mata dalam arti sifat fisik stimulus. Respons lebih dapat
diuntungkan dengan keadaan internal yang diaktifkan oleh psikologis.
Secara singkat, dapat
ditarik kesimpulan bahwa setelah organisme menerima stimuli-stimuli dari luar
dan kemuadian memporosesnya di dalam dirinya, maka organisme akan dapat
meramalkan respons apa yang akan terjadi selanjutnya, baik itu akan dilakukan
maupun tidak akan dilakukan.
Peneguhan
(Reinforcement) Respons
Peneguhan respons
mempengaruhi keadaan internal organisme dalam keadaan kebalikannya. Maksudnya,
organisme itu dipengaruhi tidak hanya oleh peristiwa di masa lampau saja tetapi
iapun dipengaruhi oleh masa yang akan datang.
Akibat adanya arah
ganda waktu ini adalah untuk memberikan penegasan yang lebih besar pada keadaan
internal organisme tersebut. Dalam arti, organisme tidak hanya tergantung pada
lingkungannya saja, tetapi ia dapat mengendalikan lingkungan dan pengaruhnya,
sampai batas tertentu, melalui penggunaan fungsi antara dari keadaan
internalnya.
Perspektif psikologis
tentang komunikasi manusia memfokuskan perhatiannya pada individu (si
komunikator/ penafsir) baik secara teoritis maupun empiris. Secara lebih
spesifik lagi, yang menjadi fokus utama dari komunikasi adalah mekanisme
internal peneriamaan dan pengelolahan informasi.
Fokus ini telah
menimbulkan orientasi komunikasi manusia yang berpusat pada si penerima.
Walaupun bidang sebenarnya psikologi yang dipinjam perspektif ini masih tidak
jelas, unsur- unsur perantara dari behaviorisme S-O-R dan psikologi kognitif,
khususnya teori keseimbangan, cenderung untuk mendominasi usaha penelitian para
ilmuwan komunikasi yang mempergunakan perspektif psikologi.
Model perspektif
psikologi komuniksi manusia.
Pertama- tama,
perspektif ini menganggap bahwa manusia berada dalam suatu medan stimulus, yang
secara bebas disebut sebagai suatu lingkungan informasi. Dalam model psikologis
manusia ditandai sebagai makhluk yang memiliki fungsi ganda menghasilkan dan menerima
stimuli- jadi manusia adalah seorang komunikator/ penfsir stimuli
informasional.
Psikologis komunikasi
memiliki model yang berbeda dari model psikologis yang menjelaskan semua
perilaku dalam kerangka asumsi bahwa semua manusia dalam medan stimulus menghasilkan
sejumlah besar stimulus yang ditangkap oleh orang lain. Karena itu, sampai
batas- batas tertentu, tiap komunikator telah terorientasi secara psikologis
kepada yang lain.
Filter konseptual
merupkan suatu “kata petunjuk”, yang ditujuan untuk mencakup semua konstruk
yang beragam yang telah dipakai untuk melukiskan secara teoritis kegiatan
internal dalam diri manusia. Filter konseptual juga berfungsi untuk membantu
proses penyandian, apabila proses penyandian kurang ditangkap dengan baik.
Salah satu hambatan
perspektif psikologi, yaitu kecenderungan mendehumanisasikan manusia dan pada
akhirnya membuat mereka tidak berdaya terhadap lingkungan mereka sendiri.
Penggambaran tentang
perspektif psikologis tidaklah merupakan perspektif yang menyatu secara manunggal
dalam pengkajian komunikasi. Sebaliknya, dalam kerangka perspektif ini terdapat
pendekatan metodologis, konsep yang dipakai, serta definisi operasional yang
digunakan, yang amat beranekaragam. Sampai pada tingkat tertentu, ketidaksamaan
ini mencerminkan sebagian besar kekalutan yang terdapat di dalam disiplin
psikologi. Sudah tentu, penekanan pada filter konseptual yang berupa black box
(seperti: sikap, persepsi, keyakinan, dan keinginan) telah mempercepat
timbulnya arah yang berlainan.
3.
Perspektif Interaksional
Meskipun asal mula
perspektif interaksional komunikasi manusia dapat ditelusuri sampai kefilsafat
ekstensialisme dan bahkan ke Socrates, sumbernya yang khusus dan komprehensif
dari perspektif ini secara langsung ataupun tidak langsung adalah interaksional
komunikasi manusia.
Secara lebih khusus
lagi, arah perkembangan dalam masyarakat ilmiah komunikasi manusia yang
memperlakukan komunikasi sebagai dialog adalah adanya indikasi yang terang
sekali dari pendekatan interaksional pada studi komunikasi manusia.
Popularitas
interaksional berasal dari reaksi humanistis terhadap mekanisme dan
psikologisme. Akan tetapi, yang lebih penting lagi adalah pemberian penekanan
yang manusiawi pada diri sebagai unsur pokok perspektif interaksional. Tetapi
dari pada memandang diri hanya sebagai internalisasi pengalaman individual,
interasionisme lebih menerangkan perkembangan diri melalui proses “penunjukan
diri” di mana individu dapat “bergerak keluar” dari diri dan melibatkan dirinya
dalam intropeksi dari sudut pandang orang lain. Dengan cara yang sama individu
dapat melibatkan dirinya dalam pengambilan peran dan mendefinisikan diri maupun
orang lain dari sudut pandang orang lain.
Fenomena pengambilan
peran inilah yang memungkinkan adanya pengembangan diri semata- mata sebagai
proses sosial- dalam proses intropeksi maupun ekstropeksi. Oleh karena hanya
melalui interaksi sosial hubungan dapat dikembangkan. Dan pengambilan peran
tidak hanya merupakan unsur sentral dari perspektif interaksional, akan tetapi
juga menjadi unsur yang unik.
Perspektif
interaksional menekankan tindakan yang bersifat simbolis dalam suatu
perkembangan yang bersifat proses dari komunikasi manusia. Penekanannya pada
tindakan memungkinkan pengambilan peran untuk mengembangkan tindakan bersama atau
mempersatukan tindakan individu dengan tindakan individu- individu yang lain
untuk membentuk kolektivitas. Tindakan bersama dari kolektivitas itu
mencerminkan tidak hanya pengelompokan sosial akan tetapi juga adanya perasaan
kebersamaan ataupun keadaan timbal balik dari individu- individu yang
bersangkutan, yang dilukiskan dalam model sebagai “kesearahan” orietasi
individu- individu terhadap diri orang lain, dan objek.
Model perspektif
interaksional komunikasi manusia.
Komunikator
interaksional merupakan penggabungan yang kompleks dari individualisme sosial,
yakni seorang individu yang mengembangkan potensi kemanusiawiannya melalui
interaksi sosial.
Implikasi yang paling
penting dari perspektif interaksional bagi studi komunikasi manusia adalah
adanya penyempurnaan pemberian penekanan pada metodologi penelitian.
Implikasinya yang pertama mencakup pemahaman yang disempurnakan tentang peran
yang akan dijalankan oleh peneliti. Dari pada hanya digambarkan sebagai seorang
pengamat yang sifatnya berat sebelah, dan tidak tertarik atas fenomena empiris,
penelitian interaksional menjalankan peranannya sebagai seorang pengamat-
partisipan dalam pelaksanan penelitiannya. Dari sudut pandang mereka, peneliti
mengoperasionalkan konsep dan menjalankan observasi empirisnya. Akan tetapi,
validasi konsep penelitiannya bergeser dari criteria eksternal ke sudut
pandangan para subjek penelitian itu sendiri.
Perspektif
interaksional dengan jelas merupakan sumber yang menarik perhatian orang dalam
pengertian bahwa ia berada dalam tahap perkembangan yang kontinu. Dalam artian
sebagai “revolusi yang belum tuntas”, setiap penemuan penelitian secara
relative bersifat baru dan mengarah ke banyak arah yang baru.
4.
Perspektif Pragmatis
Pragmatis merupakan
studi tentang bagaimana lambing- lambing itu berhubungan dengan orang lain.
Aspek pragmatis komunikasi berpusat pada perilaku komunikator sebagai komponen
fundamental komunikasi manusia. Pragmatika berpandangan bahwa komunikasi dan
perilaku sesungguhnya sama.
Prinsip-prinsip
pragmatika secara langsung lebih banyak berasal dari teori system umum,
campuran, multi disipliner dari asumsi, konsep, dan prinsip- prinsip, yang
berusaha menyediakan kerangka umum bagi studiberbagai jenis fenomena- fisika,
biologi, dan sosial. Teori system merupakan seperangkat prisip yang
terorganisasikan secara longgar dan bersifat amat abstrak, yang berfungsi untuk
mengarahkan jalan pikiran kita, namun yang tergantung pada berbagai penafsiran.
Pada prinsipnya
perspektif pragmatis merupakan alternatif bagi perspektif mekanistis dan
psikologis, dengan memfokuskan pada urutan perilaku yang sedang berlangsung
dalam ruang lingkup filosofis dan metodologis teori system umum dan teori
informasi. Penekanannya pada urutan interaksi yang sedang berjalan, yang
membatasi dan mendefinisikan system sosial, merupakan pemindahan dari penekanan
perspektif interaksional pada pengambilan peran yang diinternalkan. Meskipun
demikian, pemberian penekanan pada perilaku interaktif, sekalipun penjelasan
kejadiannya itu berbeda, merupakan penekanan yang sama bagi perspektif
pragmatis dan interaksional.
Yang fundamental bagi
setiap studi komunikasi manusia yang serius dalam perspektif pragmatis adalah
daftar kategori yang menyatakan fungsi yang dilakukan oleh komunikasi manusia
dan yang menyatakan fungsi yang dilakukan oleh komunikasi manusia dan yang
memungkinkan tindakan komunikatif untuk diulang kembali pada saat yang
bersamaan.
Selanjutnya untuk
memahami komunikasi manusia adalah mengorganisasikan urutan yang sedang
berlangsung ke dalam kelompok- kelompok karakteristik sehingga peristiwa itu
“cocok” satu sama lainnya dalam suatu pola yang dapat ditafsirkan. Urutan itu
diberi cara penggunaannya berkat ketrbatasanyang diberikan pada pilihan
interaktif; yakni, makin redudan urutan itu, makin banyak struktur yang
diperlihatkan oleh pola interaksi.
Implikasi perspektif
lebih luas dan lebih jauh liputannya dalam perbedaannya dari kebijakan
konvensional yang mengitari komunikasi manusia. Implikasi- implikasi tersebut
yakni:
· Ekternalisasi, karena
komunikasi memusatkan perhatiannya pada perilaku, maka ungkapan klise yang
dihubungkan dengan komunikasi mulai menerima makna baru.
· Probabilitas
stokatis, umumnya analisa data penelitian dalam ilmu- ilmu sosial mempergunakan
statistika inferensial, dan desain- desain eksperiental. Sifat perspektif
pragmatis menimbulkan masalah bagi para ahli yang hanya terlatih dalam methode
penelitian yang tradisional. Prinsip ekuifinalitas, yang menandai system
terbuka, tidak menyisihkan sama sekali metode eksperimental, tetapi ia hanya
mengurangi arti pentingnya saja.
· Analisis kualitatif,
perspektif pragmatis mengandung arti bahwa inferensi kausal menjadi kurang
penting dalam memahami proses komunikasi manusia, jika tidak mau dikatakan
tidak sesuai. Yang lebih penting dan relevan adalah masalah- masalah kualitatif
yang mengenai karakterisasi system komunikasi. Bagian ini akan berusaha
menggambarkan secara garis- besar beberapa masalah kualitatif yang paling
penting bagi studi komunikasi sekarang.
· Kompleksitas konsep
waktu, di dalam kerangka perspektif pragmatis, waktu menjadi makin lebih
kompleks dan makin lebih merupakan bagian yang integral dari komunikasi
manusia.
· Komunikasi
interpersonal massa, dalam bidang yang beranekaragam seperti komunikasi
manusia, penerapan perspektif pragmatis bertindak sebagai kerangka untuk
mempersatukan berbagai pendekatan komunikasi yang berlainan.
Untuk
mengkonseptualisasikan komunikasi dari perspektif pragmatis sama saja dengan
memperbaharui secara drastic pola pikiran yang semula tentang komunikasi. Akan
tetapi untuk mengkonseptualisasikan komunikasi sebagai suatu tindakan
“partisipasi” atau “memasuki” suatu system komunikasi ataupun hubungan
memerlukan “goncangan” pada cara berpikir kita yang tradisional.
Walaupun demikian,
kemampuan untuk mengenal cara kita berpikir dan menggunakan berbagai perspektif
merupakan suatu tanda seorang yang terpelajar, dan kemampuan untuk
mengkonseptualisasikan, termasuk kemampuan untuk merekonseptualisasikan adalah
isyarat adanya pemahaman yang meningkat.
5.
Kombinasi Perspektif
Ahli-ahli komunikasi
seringkali mengkombinasikan unsur-unsur berbagai perspektif dan menggunakan
kombinasi ini dalam meninjau proses komunikasi. Kombinasi yang sering terjadi
adalah perspektif psikologis dengan mekanistis. Pada umumnya perspektif
mekanistis- psikologis merupakan pendekatan komunikasi yang jelas paling
popular.
Setiap perspektif
secara relatif terpisah secara relatif antar yang satu dengan yang lain.
Menurut Aubrey Fisher, agar penelitian produktif hendaknya menyadari pemakaian
kombinasi perspektif dan secara sadar mencegah adanya kombinasi yang tidak
konsisten atau tidak searah. Prasyarat bagi setiap pengembangan teoritis
komunikasi adalah adanya kesadaran kritis tentang perspektif teoritis yang ada
dan yang sedang diterapkan.
Perspektif bukan hanya
perspekti mekanistis, psikologis, interaksionis, dan pragmatis saja, melainkan
masih ada yang lain diantaranya: perspektif ekologi atau kontekstual tentang
komunikasi manusia konsisten dengan definisi komunikasi sebagai proses adaptasi
orgaisme kepada lingkungan. Perspektif ekologi lebih bersifat asumtif dari pada
aktual.
Perspektif dramatisme,
lebih berpengaruh dan populer dari pada pandangan ekologis adalah dampak
dramatisme atas komunikasi. Daramatisme lebih bersifat analogis dari pada
teoritis. Model dramatis menempatkan individu dan perilaku sosial dalam analogi
dramatis yang menandai aktor sosial pada “panggung” kehidupan yang sebenarnya.
Sebagai model atau analogi organisasi komunikasi, dramatisme sangat bersifat
heuristic, kaya dengan ide- ide yang potensial.
Perspektif memang
memberikan pengaruh besar pada akumulasi pengetahuan yang potensial yang
menyangkut proses komunikatif. Pengaruh utama dari perspektif ialah menentukan/
mengarahkan pemahaman seseorang tentang konsep komunikasi. Salah satu cara
untuk menerangkan pengaruhnya adalah mengatakan bahwa perspektif yang berbeda
memberikan interpretasi yang berlainan juga.
Sebagian orang mungkin
akan menafsirkan perspektif itu sebagai suatu metodelogi penelitian, jelas
bukan. Begitu pula suatu metodelogi tertentu tidaklah unik atau bahkan paling
tetap bagi suatu perspektif apapun. Dalam kenyataannya, setiap metodelogi
penelitian apapun dapat cocok dalam salah satu dari keempat perspektif itu, hanya
tergantung pada sifat pernyataan penelitian tertentu yang ditanyakan- bukan
pada perspektif filosofisnya itu sendiri.